Wakil Rakyat

Oleh :Monanda Phermana

“Khianat yang paling besar adalah jika seorang penguasa memperdagangkan rakyatnya” (HR. Ath-Thabrani).

Sangat banyak yang berniat menjadi wakil rakyat. Tentunya ini suatu niat mulia, karena yang diperjuangkan adalah nasib orang banyak. Apalagi karena berbagai keadaan, tak semua orang memiliki kemampuan untuk menyuarakan kehendak dirinya. Di pihak lain, tidak semua orang mampu menyuarakan suara orang banyak, sehingga pantas disebut terhormat kepada yang mau dan mampu melakukannya. Karena itu, bila kehendak rakyat diperjuangkan dengan ikhlas, wajar banyak pahala mengalir. Namun akan berbeda sekali alirannya, seandainya hanya mengatasnamakan rakyat, tetapi sesungguhnya hanya memperjuangkan kepentingan pribadi.

Orang-orang yang seperti disebutkan terakhir disebut sebagai pengkhianat besar. Memang tak ada orang yang sudi menerima sebutan memalukan ini. Tapi diterima atau tidak, begitulah sebutan yang diberikan Rasulullah SAW untuk orang-orang yang sengaja mengkhianati rakyatnya.

Dari sebutan ini juga dapat difahami betapa cintanya Rasulullah kepada umatnya. Juga dapat difahami betapa tinggi keberpihakan Nabi kepada umat, segolongan umat manusia yang diperjuangkannya dengan kesabaran yang tinggi agar menjadi orang-orang beriman. Beliau tak ingin ada orang yang mengkhianati umatnya. Apalagi khianat adalah di antara tanda yang melekat pada perilaku orang munafik.

Karena itu, besar harapan banyak orang agar yang terpilih menjadi wakil rakyat, benar-benar mampu memahami keinginan rakyat. Tentunya bukan hanya memahami, tetapi memperjuangkannya keterwujudannya.

Iklan