Mengenal masyarakat Aceh di Australia

Oleh: Teuku Murdani *)

teuku murdani Australia dikenal dengan masyarakat yang sangat mulikultural dengan penduduknya berasal dari berbagai belahan dunia. Tidak heran kalau banyak imigran yang mencoba datang ke Australia dengan berbagai cara. Pemerintah Australia sendiri sangat kewalahan dalam menangani persoalan imigran ini, sehingga mereka melakukan berbagai upaya untuk mengatasinya seperti membangun kamp penampungan di Cristmast Island di kawasan perairan Australia, Namru Indonesia dan melakukan kerja sama yang lebih erat dengan pemerintah Indonesia dan Malaysia untuk mencegah boat dan perahu yang menyelundup pendatang secara illegal ke wilayah Australia.

Aceh ternyata tidak ketinggalan dalam menyumbang pendatang ke Australia, lebih dari 300 KK masyarakat Aceh yang umumnya dari Pidie saat ini menetap di Australia dan mereka telah menjadi warga negara Australi serta memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga Australia sendiri. Motivasi migrasi warga Aceh umumnya karena konflik yang medera tanoeh endatu-nya, sehingga mereka mencari suaka di negeri yang sangat terkenal dengan kangguru dan koalanya sebagai tempat mencari kedamaian dan kehidupan.

Karena kemajemukannya, warga Aceh tidak mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan penduduk lokal atau penduduk asing lainnya. Populasi masyarakat Aceh terbanyak terdapat di Sydney yang merupakan salah satu kota terbesar di Australia. Mereka umumnya sudah menetap antara 3 sampai 20 tahun, di samping sejumlah mahasiswa Aceh yang sedang mengambil Master ataupun PhD di berbagai universitas. Masyarakat Aceh umumnya tinggal di daerah Lakemba, Wiley park, Arncliffe yang merupakan wilayah yang berdekatan di kawasan Barat Sydney

Untuk membangun silaturrahmi sesama masyarakat Aceh, mereka membentuk sebuah organisasi dengan nama Aceh Australian Society (AAS). Organisasi ini merupakan organisasi masyarakat Aceh untuk mempererat silaturrahmi dan merayakan kegiatan-kegiatan sebagaimana yang biasa kita lakukan di Aceh, seperti pengajian mingguan, samadiah, perayaan Israk Mikraj, Maulid Nabi dsb. AAS tidak terlibat dalam kegiatan politik dan sebagainya karena mereka organisasi ini sebagai wadah silaturrahmi masyarakat Aceh di perantauan.

Untuk tempat pertemuan, salah seorang warga Aceh memberikan sebuah fasilitas bangunan sederhana yang dijadikan meunasah. Meunasah ini sebagaimana meunasah-meunasah di Aceh di fungsikan sebagai tempat ibadah seperti shalat berjama’ah, berbuka puasa, shalat tarawih, pengajian, dan sebagai tempat pertemuan-pertemuan untuk kepentingan masyarakat Aceh di Sydney. Di samping itu juga berfungsi untuk menampung sementara warga Aceh yang baru tiba di Australia khususnya Sydney sebelum mendapatkan tempat tinggal permanen.

Mencermati bertambahnya masyarakat Aceh di Sydney, AAS saat ini sedang berusaha mengumpulkan dana untuk pembangunan sebuah pusat komunitas Aceh yang di berinama ‘Iskandar Muda Youth Education Centre’. Gedung ini nantinya akan menjadi multi fungsi yang akan dipakai untuk berbagai kegiatan masyarakat Aceh di Sydney, mulai dari pendidikan, pertemuan, dan tempat promosi budaya Aceh di negeri Kangguru.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah ikut berpartisipasinya AAS cabang Canberra dalam Multi Cultural Festival di Canberra di mana warga Aceh menyewa sebuah stand untuk menjual beberapa makanan khas Aceh seperti kuah kari, sate matang, mie Aceh dan kopi sareng yang tentunya tidak ketinggalan. Kegiatan ini salah satu upaya pengumpulan dana untuk mempercepat pembangunan Iskandar Muda Youth Education Center di Sydney.

Dalam acara tersebut AAS cabang Canberra ikut mempromosikan Aceh kepada para pengunjung dari berbagai Negara, namun sangat disayangkan kegiatan ini tidak mendapatkan dukungan dari pemerintah Aceh. Panitia telah menghubungi Dinas Pariwisata untuk meminta bahan-bahan promosi seperti leaflet dan tujuan wisata menarik di Aceh namun hingga acara selesai dilaksanakan panitia tidak menerima berita apapun dari Dinas Pariwisata Aceh.

Dalam hal makanan, masyarakat Australia sangat gemar mencoba berbagai makanan dari Negara-negara lain, stand Aceh menjadi tempat yang sangat diminati dengan rasa karinya sehingga panitia sangat kewalahan.

Agama bukanlah satu permasalahan bagi warga Aceh untuk berinteraksi dengan berbagai bangsa di Australia, karena pemerintah Australia menjamin setiap hak warganya. Walaupun masyarakat Australia dikenal dengan Christian based community tetapi sangat toleran terhadap agama-agama lain. Hal ini dapat di lihat dengan banyaknya masjid-mesjid hampir di seluruh Australia juga tempat-tempat ibadah agama lain.

Kemudahan lainnya adalah pemerintah Australia menyediakan air bersih yang langsung bisa di minum dan kamar kecil di mana-mana termasuk di taman-taman tempat rekreasi. ketika tiba waktu shalat bagi masyarakat muslim, mereka bisa memanfaatkan fasilitas tersebut untuk wudhuk dan membentangkan sajadah di taman untuk menunaikan kewajibannya tanpa ada gangguan sedikitpun dari kelompok masyarakat lain. Kebersihan dan kesucian di taman tidak perlu diragukan karena pemerintah Australia memberlakukan peraturan yang sangat ketat dalam upaya menjamin keasrian semua taman rekreasinya.

*)= International Development student, Faculty of Art and Design University of Canberra,Australian Capital Territory, Australia

Iklan