Memudakan Aceh

MonOleh: Monanda Phermana *)

Tantangan yang semakin berat di tengah berbagai permasalahan sosial yang semakin beragam dan mendalam, dominasi wacana elit politik yang absurd, kesejahteraan berkeadilan yang belum terwujud merupakan masalah yang masih terjadi hingga saat ini.

Tahun-tahun sulit yang belum berakhir hingga kini. Baik paska reformasi 1998 di tingkat nasional maupun Aceh di tingkat lokal paska perdamaian dan bencana, kita masih berada dalam masa-masa vivere pericoloso. Masa-masa di mana kita hidup secara berbahaya karena berpotensi semakin terjebak dengan berbagai permasalahan sosial politik tanpa ujung.

Bila melihat kondisi Aceh seperti saat ini, muncul kegamangan akan kondisi Aceh ke depan. Menguatnya dominasi politik, bukan wacana keilmuan menjadi salah satu yang menyebabkan kondisi yang semakin memburuk.

Aksi-aksi yang mengarah kepada konflik terbuka semakin mudah terjadi. Begitupun dengan meningkatnya kesalahpahaman yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dalam menyikapi perbedaan-perbedaan pandangan politik, keyakinan, kepercayaan maupun sikap hidup yang dipilih. Yang diikuti pula hubungan yang semakin menengang antar elemen dalam masyarakat.

Tentu hal ini bila terus dibiarkan akan mengakibatkan masyarakat menjadi lelah dan letih. Riuh dalam debat dan menghilangkan konsentrasi masyarakat untuk bekerja dan mensejahterakan diri dan keluarganya. Sehingga juga bukan tidak mungkin akan menimbulkan trauma sosial di masa mendatang. Maka diperlukan upaya yang kuat dan serius untuk mengubah haluan agar Aceh kembali ke jalur yang lebih tepat, yaitu jalur yang mengutamakan keilmuan dengan kejujuran dan kerja keras.

Diskursus politik yang mendominasi selama ini pelan-pelan harus mulai juga diarahkan dengan diskursus-diskursus keilmuan yang produktif. Yaitu dengan membangun tradisi kehidupan yang berbasis pengetahuan serta mengedepankan etika. Melahirkan ide-ide yang penting dan bermanfaat untuk masyarakat banyak, yang kemudian dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah serta menggerakkan perubahan di masyarakat menjadi masyarakat yang lebih maju.

Untuk itu, Aceh perlu dimudakan kembali. Disegarkan dan dikembalikan lagi vitalitasnya dengan digerakkan dan dimajukan oleh orang-orang berjiwa muda. Yang memiliki visi jauh ke depan, semangat tinggi, dan penuh dengan ide-ide segar. Di tangan orang-orang yang berjiwa mudalah perubahan dapat dilakukan.

Kaum Muda

Harapan untuk memudakan tersebut menjadi tugas kaum muda, yaitu yang bukan umurnya muda, melainkan semangatnya yang muda. Kaum muda tidak boleh terjebak dengan predatoris kepentingan politik praktis, tidak apatis terhadap kondisi sosial serta terpisah dari masyarakat di sekelilingnya.

Kaum muda harus ikut terlibat langsung dengan permasalahan kemasyarakatan. Kapasitas diri dan semangat yang dimiliki kaum muda tersebut harus digunakan untuk memikirkan dan berbuat dengan tujuan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

Kaum muda tidak boleh sibuk dan terlena dengan aktivitas-aktivitas seperti pacaran, pesta pora atau pun bersenang-senang secara berlebihan. Sebaliknya, kaum muda harus menyibukkan diri dengan aktivitas-aktivitas keilmuan dan bergelut dengan dialektia kondisi masyarakat. Namun juga tidak terjebak dengan pembicaraan yang ‘melangit’ dan text book pada kalangan mereka sendiri, sambil menganggap diri sebagai kelompok spesial dan eksklusif dengan berbagai kelebihan yang dimiliki.

Di sisi yang lain, kaum muda juga harus mampu untuk berbicara secara kontekstual. Mampu melihat dan meletakkan masalah sesuai dengan konteks keberadaannya. Hal ini penting mengingat seringkali kaum muda mencoba menjawab permasalahan kemasyarakatan dengan menggunakan teori-teori atau konsep-konsep yang kurang relevan. Penyebabnya, teori-teori atau konsep-konsep yang digunakan lahir dari kondisi yang berbeda dengan penggunaan teori atau konsep tersebut untuk memahami dan memecahkan permasalahan saat ini.

Waktu dan tempat yang berbeda tersebut mengakibatkan terjadinya bias antara permasalahan yang dihadapi dengan solusi yang diberikan sehingga permasalahan yang dihadapi oleh tidak pernah terselesaikan dengan baik.

Kemudian, kaum muda juga tidak boleh hanya bergerak hanya sebatas ide dan wacana, tetapi juga harus berupaya untuk menyebarkan ide-ide tersebut dan menerapkan ide tersebut. Agar ide yang dimiliki tersebut dapat terwujud di tengah-tengah masyarakat.

Intelegensia

Bukan ranah politik praktis yang perlu diinfiltrasi secara mutlak oleh kaum muda. Namun, ranah wacana intelektual ataupun aksi-aksi praktis yang langsung menyentuh masyarakatlah yang lebih diperlukan saat ini untuk dimasuki.

Antonio Gramsci, seorang pemikir yang dipenjara hingga menjelang akhir hidupnya menuliskan refleksinya dalam bukunya The Prison Notebook, salah satu prasyarat perubahan sosial adalah kebutuhan akan adanya kelompok intelektual.

Menurut Gramsci, bukan intelektual tradisional yang terikat oleh bahasa akademis dan pendidikan tertentu, mengikuti mainstream dominan, serta terpisah dari masyarakat, yang dibutuhkan. Namun, intelektual organik yang memiliki hubungan erat dengan masyarakat banyak dalam upaya perubahan sosial tertentu, dan terlibat dalam kelompok-kelompok progresif di masyarakat yang menyusun dan menciptakan gagasan-gagasan yang mendasari dalam proses perubahan.

Jalan sebagai Intelektual organik inilah yang dapat diambil oleh kaum muda saat ini. Dengan berperan dalam merangsang perkembangan masyarakat menuju suatu tatanan masyarakat yang lebih baik lewat penyebarkan gagasan-gagasan kemajuan untuk menggerakkan masyarakat.

Mengutip perkataan Ali Syari’ati, kaum muda perlu membangkitkan dan membangun masyarakat, dengan cara membantu masyarakat agar berkembang lebih cepat dengan cara mengenalnya, mempengaruhinya, dan memanfaatkan, serta mengaktifkan organ-organ dalam hubungan sosialnya. Agar Aceh menjadi muda kembali. Semoga!!!!!

*)= Koresponden Simeulue

Iklan