Kenapa Harus Menjadi TKI di Negara Orang?

MonKenapa Harus Menjadi TKI di Negara Orang?

Oleh:Monanda Phermana *)

BERBICARA TKI, bagi pihak minoritas atau kaum ekonomi lemah (miskin) adalah merupakan hal yang luar biasa. Karena menurut anggapan mereka kalau sudah bekerja di luar negeri otomatis taraf hidup akan berubah.

Alasan tersebut dibarengi pula dengan peluang kerja dan upah di luar negeri cukup besar dibanding di Indonesia sendiri.  Karena tawaran gaji/upah yang diberlakukan di luar negeri sangat besar, hal itulah yang mendorong masyarakat Indonesia memberanikan diri hijrah ke negara lain.

Sebenarnya menurut penilain penulis, ada baiknya masyarakat Indonesia tersebut mengabdikan diri untuk berjuang di negeri sendiri dan membangun di negeri sendiri, meski taraf hidup di negeri belum menjanjikan.

Padahal berdasarkan informasi yang penulis kumpulkan, rata-rata pekerjaan yang ditawarkan di luar negeri itu sama saja yang ada di Indonesia. Para  TKI yang bekerja di luar negeri itu sebagian besar bekerja di bagian Pelayanan Jasa seperti: Pembantu Rumah Tangga, Pelayan Toko, Pelayan Restoran dan lain-lain.

Selain itu tidak sedikit para TKI di luar negeri mengalami siksaan. Mereka  bukannya mendapatkan gaji malah mendapatkan penderitaan, kekerasan dan dijerat hukum. Seperti yang penulis baca di koran Media Indonesia terbitan Selasa, 13 November 2012.

Sejak tahun 2012 ada 5  kasus kekerasan yang dialami TKI Indonesia di Malaysia diantaranya:
1)      6 Maret 2012. Kedubes Indonesia di Kuala Lumpur menerima laporan
adanya kekerasan terhadap TKI.
2)      16 Mei 2012. Sera, 22, TKI, mengalami kekerasan seksual di
Malaysia. Sera ditemukan masyarakat di jalan setelah diturunkan
travel berpelat mobil Malaysia di Pontianak.
3)      Juni 2012. Suhainingsih, 22,asal Lombok Timur mendapat siksaan
dari sang majikan.
4)      7 September 2012. TKI tewas ditembak Polisi Diraja Malaysia
lantaran dugaan aksi kriminalitas di negara tersebut.
5)      9 November 2012. Seorang TKI diperkosa tiga Polisi Diraja Malaysia.

Para TKI di Indonesia jika terlibat hukum di negara lain, adalah salah satu masalah yang sangat besar yang dihadapi pemerintah, karena negara tujuan para TKI mempunyai hak perlindungan terhadap masyarakatnya sendiri, mereka menganggap para TKI merupakan warga pendatang maka perlindungan hukum tidak ditegaskan. Dan malah diperlakukan secara tidak manusiawi oleh aparat hukum di negara tersebut.

Sampai kapanpun masalah yang menimpa para TKI tidak akan berhenti jika tidak ada tindakan tegas dari Pemerintah. Kalau perlu HENTIKAN PENGIRIMAN TKI ke luar negeri.

Apabila pemerintah terus mengirimkan para TKI ke luar negeri  sama saja pemerintah menjual masyarakatnya sendiri jadi bahan siksaan untuk negara lain. Ibarat melempar ”kelinci ke kandang singa”.

Sungguh sadis, dimana harga diri Negara ini? Bukankah lebih berharga HARGA DIRI dibanding DEVISA?

Belum lagi TKI yang lain yang belum melaporkan diri, kerana adanya ancaman dari pihak majikan atau yang mempekerjakannya. Ini terjadi di negara Malaysia belum lagi dengan negara-negara lain.

Adapun TKI yang sukses dan berhasil di negara lain itu tidak lain karena adanya faktor kekeluargaan dan faktor yang sudah punya kenalan di negara tujuan. Sehingga menjamin tidak terjadinya tindakan kriminalitas.

Cobalah anda bayangkan pekerjaan tersebut, tidak ada bedanya dengan negeri sendiri, hanya saja upah atau gaji yang membedakan.

Nah persoalannya disini, mungkin rakyat Indonesia terinfeksi firus gengsi dan tidak puas dengan gaji yang di berikan di negeri sendiri. Jika di hitung-hitung gaji di Indonesia sama saja dibanding dengan negara lain. Kenapa penulis sebutkan seperti itu, berangkat dari suatu prinsip atau pepatah yang mengatakan “sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit”.

Nah, pepatah ini sangat berperan penting bagi kepribadian masyarakat Indonesia sendiri. Diamana pepatah tersebut menganjurkan setiap orang/individu yang menerapkannya untuk lebih bersabar dalam berkehidupan maupun dalam menjalankan kegiatan apapun.

Maksudnya, seorang pekerja di Indonesia menerima upah yang rendah apabila dia berniat untuk mengumpulkan /menabung sebagian upahnya tersebut, lama kelamaan menjadi omset yang besar sehingga memberikan peluang  membuka suatu bentuk usaha dan pekerjaan yang dapat memberi peluang kerja kepada masyarakat lainnya.

Coba dibayangkan, jika 100 orang memiliki prinsip seperti penulis utarakan diatas bukankah  peluang pekerjaan di indonesia ini terbuka lebar? Buat apa kita mengharapkan upah yang tinggi kalu sudah ada peluang kerja?

Masalah yang mendasar, Kesadaran masyarakat Indonesia akan pentingnya hidup menabung dan berhemat tidak nampak sama sekalipun. Coba anda lihat sendiri, disetiap kota di Indonesa berdiri dengan gagahnya Mall dimana setiap hari dipenuhi dengan pengunjung. Padahal mayoritas isi Mall tersebut diisi barang-barang  semuanya dari luar negeri. Yang untung siapa? Pasti luar negeri jugakan?

Itulah bukti bahwa masyarakat indonesia tergolong masyarakat yang “Konsumerisme.” Inilah yang perlu di rubah. Disisi lain peran pemerintah dalam mengayomi masyarakat belum maksimal, pemerintah seakan akan hanya berpangku tangan saja dalam mengatasi masalah yang dihadapi rakyatnya. Pemerintah tidak jeli melihat kekurangan-kekurangan yang terjadi pada masyarakatnya sendiri.

Pemerintah tidak cepat tanggap terhadap apa yang masyarakat butuhkan.
Pemerintah hanya sibuk urusin pita-pita dasinya saja.

Penulis berharap, kalau tidak dimulai dari diri masyarakat itu sendiri dan di bantu dengan peran pemerintah, negara ini tidak akan pernah bangkit dari keterpurukan dan ketertinggalan dibanding dari negara lain. Kunci utamanya adalah semua aspek harus bekerjasama dalam membangun dan membangkitkan masyarakat dari keterbelakangan serta ketertinggalan dari negara lain.

Nah solusi yang utama, STOP PENGIRIMAN TKI… !! Kalau sudah bertindak, berarti sudah menyelamatkan citra Indonesia.

*)- Koresponden Simeulue

Iklan